assalamu'alaikum....
Kemajuan dan kejayaan serta kesejahteraan mustahil diraih kecuali dengan kemuliaan. Itulah pemahaman yang terpatri sangat kuat didalam dada para sahabat Rasulullah. Dengan potensi yang dimiliki, tak satu pun sahabat Nabi yang tidak bergerak sigap, cepat dan tepat dalam meraih kemuliaan.
Abu bakar misalnya, beliau sungguh sangat luar biasa. Pantas kalau beliau di gelari Ash-Shiddiq serta mendapat kedudukan yang sangat dekat dengan Rasulullah.
Pada suatu hari Rasulullah dudu-duduk bersama para sahabatnya dan berkata, "Siapa diantara kalian yang puasa hari ini?" Abu bakar menjawab, "saya". Lalu Nabi bertanya lagi," Siapa diantara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?" Abu bakar menjawab, "saya". Kemudian Nabi bertanya lagi," Siapa diantara kalian yang hari ini mengiringi jenazah?" Jawab Abu bakar, "saya". Kemudian Nabi bersabda, "semua (perkara) itu tidak berkumpul pada diri seseorang melainkan ia akan masuk surga" (HR Muslim) .
Bisa kita bayangkan bagaimana mungkin seorang manusia dalam satu hari melakukan begitu banyak amal sholeh. Berpuasa, menjenguk orang sakit, dan mengiringi jenazah ke liang lahat. Berapa jam waktu dihabiskan melakukan itu semua? bukankah dia juga punya keluarga yang memiliki kebututuhan?
Tetapi, ingatlah apa yang di sampaikan Rasulullah, bahwa siapa yang melakukan semua itu akan masuk surga. Artinya orang tersebut sangat mulia disisi ALLAH dan Rasul-NYA. Sebagai se0rang muslim, sudah semestinya kita meneladani spirit Abu bakar dalam meraih kemuliaan sejati itu.
Mengapa Abu Bakar dijamin masuk surga, ternyata terjawab dari hadist Rasulullah yang lainnya. "Barang siapa menghilangkan suatu kesulitan dunia dari seorang Muslim, ALLAH akan menghilangkan darinya kesulitan di akhirat. Dan siapa yang menutupi (aib) saudaranya yang Muslim di dunia, maka ALLAH akan menutupinya (aib) di dunia dan akhirat. ALLAH akan menolong seseorang selama ia menolong orang lain." (HR Bukhori dan Muslim).
Dari kalangan muslimah kita bisa belajar dari apa yang dilakukan Aisyah, istri Rasulullah. Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak dan Abu Nu'aim dalam kitab Auliya meriwayatkan bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan mengirimkan 80.000 dirham kepada Aisyah yang saat itu sedang berpuasa. saat itu juga hadiah tersebut dibagikan kepada kaum fakir miskin sehingga tidak tersisa sedikit pun. Pembantu Aisyah berkata kepadanya " Wahai Ummul Mukminin, mengapa engkau tidak menyisakan satu dirham sehingga engkau mampu membeli daging untuk berbuka nanti? Aisyah menjawab, "jika engkau mengingatkanku tadi, tentu aku melakukannya."
Perilaku yang sama juga terdapat pada diri sahabat Ustman bin Affan yang rela mensedekahkan hartanya untuk menyelamatkan kaum Muslimin dari ancaman krisis air. seperti tidak mau ketinggalan, Abdurrahman bin auf juga menyerahkan seluruh dagangan beserta 700 ekor untanya untuk kemakmuran umat islam. Semua itu dilakukan bukan karena anti dunia. tapi mereka sadar kemuliaan dimata ALLAH lebih utama dibandingkan banyaknya harta dan keegoisan yang di lampiaskan. Dan seorang muslim belum dikatakan sampai derajat baik(mulia), sebelum ia ridho menginfakkan sebagian dari harta yang sangat dicintainya (QS. 3:92).. */Abu ilmia.
Sumber : Majalah Mulia edisi Rabiul Akhir 1435 H| Februari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar